Islam merupakan agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam.
Dengan misi inilah Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad saw. sebagaimana
ditegaskan dalam firman-Nya,”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan
sdebagai rahmat bagi seluruh alam”.(QS.al Anbiya’ [21]:107).
Tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh
setiap orang adalah: toleran, moderat, dan akomodatif. Bagi seorang muslim,
keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang
beriman harus disempurnakan dengan amal ibadah yang baik serta perilaku yang
terpuji (akhlakul karimah).
Berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana di atas tumit itu bagus.
Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia
telah mengamalkan ajaran Islam. Ulama terdahulu, seperti imam Syafi’i, Imam al
Ghozali, Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh Islam terkemuka lainnya juga punya
jenggot panjang dan memakai sorban. Namun sekali lagi Islam tidak hanya cukup
dengan jenggot dengan sorban saja. Sebab ajaran Islam sangat luas dan tidak
bisa diwakili hanya dengan simbol belaka.
Simbol adalah kulit yang siapapun bisa melakukannya hingga orang jahat
sekalipun bisa melakukan itu dengan mudahnya. Jangan sampai dengan simbol kita
terpancing untuk menjustifikasi bahwa seseorang itu muslim puritan atau
abangan. Sehingga kita terjebak pada situasi memprihatinkan seperti sekarang
ini, dimana Islam diopinikan sebagai agama teroris, atau teroris
didentifikasikan dengan Islam. Padahal Islam
tidak mengajarkan terorisme dan perilaku ekstrim lainnya.
Sebaliknya, agama Islam adalah agama sempurna. Agama Islam bukan agama
perusak. Demikianlah wasiat sakral yang maha penting dari pencipta alam dunia
ini kepada rasulullah SAW dan seluruh umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam al
Quran surat al Qashas ayat 77, “dan
berbuat baiklah ( kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik
kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan ” .
Lahirnya sekte ekstrem dalam sejarah Islam-yang mana tu sangat dicela
oleh Nabi SAW- sudah ada sejak abad
pertama hijriyah. Kelompok ini mulai berani menunjukkan diri di hadapan Nabi
SAW pada bulan Syawal tahun 8 Hijriyah, saat Nabi SAW baru saja memenangkan
perang Thaif dan Hunain. Dalam perang ini ghanimah yang diperoleh melimpah.
Dalam pembagian yang dilakukan di Ja’ranah, tempat miqat umrah, sahabat senior
Nabi seperti, Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan
bagian ghanimah. Tapi sahabat nabi yang baru masuk Islam, mendapat ghanimah
meski mereka sudah kaya seperti Abu Sufyan.
Tiba-tiba Dzul Khuwaishirah maju kedepan dan berkata, “Berlaku Adillah,
hai Muhammad” Nabi pun Berkata “Celakalah kamu, siapa yang akan berbuat adil
jika aku saja tidak?” lantas umar berkata, “Wahai Rasulullah, biar ku pengal
saja lehernya” Nabi Menjawab. “Biarkan saja!”.
Setelah orang itu pergi Nabi bersabda “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Quran, tapi
tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi
al Quran dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari Islam seperti anak
panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam
dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau aku menemui mereka niscaya akan
kupenggal lehernya seperti halnya kaum
‘Ad”.(HR. Muslim).
Dalam riwayat lain beliau bersabda, “ Mereka itu sejelak-jeleknya makhluk bahkan lebih jelek dari binatang.
Mereka tidak termasuk dalam golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan
mereka (HR Shahih Muslim).
Prediksi Nabi SAW terbukti pada ahad pagi 17 Ramadhan 40 H. Pagi itu
Ali bin Abi Thalib dibunuh di Kuffah, Irak oleh Abdurrahman Ibnu Muljam.
Sebenarnya yang akan dibunuh ada dua orang lagi yaitu Gubernur Syam Muawiyah
bin Abu Sufyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Yang akan melakukan pembunuhan
tersebut adalah Abullah bin Barak dan Bakr at-Tamimi.
Mereka membunuh Ali RA karena menganggapnya kafir, dengan alasan,
karena Ali RA bersedia menerima keputusan hasil perundingan tahun 37 H, antara
utusan Khalifah Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dan utusan Muawiyah yang
dipimpin Amr bin Ash. Perjanjian ini dilakukan untuk menghentikan perang
saudara dalam peperangan Shifin.
Padahal, mereka yang melakukan pembunuhan adalah kelompok yang memaksa
Ali RA untuk menerima perundingan ketika peperangan hampir dimenangkan oleh
pasukan Ali. Mereka adalah yang tidak memahami Islam. Mereka rata-rata. Adalah qa’imu
al-lail, shai’mu an-nahar, hafidzu al-quran. Mereka hafal al-Quran, setiap malam shalat
tahajud, hampir tiap hari puasa sunah, jidadnya hitam, dan lututnya kapalan
untuk sujud. Gambaran ini diriwayatkan secara detail dalam syarah Shahih
Muslim, termasuk sosok Dzul Khuwaisirah. Imam Nawawi menjelaskan Dzul
Khuwaisirah adalah sosok yang berjidad hitam, kepalanya tidak berambut,
gamisnya setengah kaki dan jenggotnya panjang.
Ini adalah cikal bakal tumbuhnya kelompok ekstrem di dalam tubuh umat
Islam. Dari kelompok yang membunuh Ali RA ini lahir kelompok Khawarij. Kelompok
ini memeiliki prinsip orang yang melakukan dosa besar satu kali dianggap kafir.
Jadi Ali RA dan sahabat lainnya yang terlibat perang saudara yang membunuh
sesama muslim dianggap kafir.
Kelompok
ini berkembang menjadi oposisi pemerintah sepanjang masa yang memiliki
militansi luar biasa dan nekad, karena 80 orang berani melawan Bani Umayah.
Akibatnya, mereka tidak pernah menang, jika mati dianggap mati syahid. Kelompok
ini pecah menjadi beberapa kelompok seperti, Al-Azariqah, al-Ibadiyah,
an-Najdat dan ash-shufriyah. Yang paling ekstrim, adalah al-azariqah yang
mengatakan, pokoknya selain Khawarij adalah kafir.
No comments:
Post a Comment