Monday, June 4, 2012

PANDANGAN TENTANG GERAKAN ISLAM


Islam merupakan agama peradaban yang membawa rahmat bagi semesta alam. Dengan misi inilah Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad saw. sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya,”Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan sdebagai rahmat bagi seluruh alam”.(QS.al Anbiya’ [21]:107).
Tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang adalah: toleran, moderat, dan akomodatif. Bagi seorang muslim, keimanan yang hanya dibalut dengan simbol-simbol tidaklah cukup. Orang yang beriman harus disempurnakan dengan amal ibadah yang baik serta perilaku yang terpuji (akhlakul karimah).
Berjenggot panjang, memakai sorban dan bercelana di atas tumit itu bagus. Tapi hal-hal yang bersifat simbolik itu tidak cukup untuk dinilai bahwa dia telah mengamalkan ajaran Islam. Ulama terdahulu, seperti imam Syafi’i, Imam al Ghozali, Ibnu Sina, dan sejumlah tokoh Islam terkemuka lainnya juga punya jenggot panjang dan memakai sorban. Namun sekali lagi Islam tidak hanya cukup dengan jenggot dengan sorban saja. Sebab ajaran Islam sangat luas dan tidak bisa diwakili hanya dengan simbol belaka.
Simbol adalah kulit yang siapapun bisa melakukannya hingga orang jahat sekalipun bisa melakukan itu dengan mudahnya. Jangan sampai dengan simbol kita terpancing untuk menjustifikasi bahwa seseorang itu muslim puritan atau abangan. Sehingga kita terjebak pada situasi memprihatinkan seperti sekarang ini, dimana Islam diopinikan sebagai agama teroris, atau teroris didentifikasikan dengan  Islam. Padahal Islam tidak mengajarkan terorisme dan perilaku ekstrim lainnya.
Sebaliknya, agama Islam adalah agama sempurna. Agama Islam bukan agama perusak. Demikianlah wasiat sakral yang maha penting dari pencipta alam dunia ini kepada rasulullah SAW dan seluruh umatnya, sebagaimana dinyatakan dalam al Quran surat al Qashas ayat 77, “dan berbuat baiklah ( kepada orang lain) sebagaimana Allah SWT telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat  kerusakan di(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai kerusakan ” .
Lahirnya sekte ekstrem dalam sejarah Islam-yang mana tu sangat dicela oleh Nabi SAW- sudah ada sejak  abad pertama hijriyah. Kelompok ini mulai berani menunjukkan diri di hadapan Nabi SAW pada bulan Syawal tahun 8 Hijriyah, saat Nabi SAW baru saja memenangkan perang Thaif dan Hunain. Dalam perang ini ghanimah yang diperoleh melimpah. Dalam pembagian yang dilakukan di Ja’ranah, tempat miqat umrah, sahabat senior Nabi seperti, Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, Sa’ad dan lainnya tidak mendapatkan bagian ghanimah. Tapi sahabat nabi yang baru masuk Islam, mendapat ghanimah meski mereka sudah kaya seperti Abu Sufyan.
Tiba-tiba Dzul Khuwaishirah maju kedepan dan berkata, “Berlaku Adillah, hai Muhammad” Nabi pun Berkata “Celakalah kamu, siapa yang akan berbuat adil jika aku saja tidak?” lantas umar berkata, “Wahai Rasulullah, biar ku pengal saja lehernya” Nabi Menjawab. “Biarkan saja!”.
Setelah orang itu pergi Nabi bersabda “Akan lahir dari keturunan orang ini kaum yang membaca Al-Quran, tapi tidak sampai melewati batas tenggorokannya (tidak memahami substansi misi-misi al Quran dan hanya hafal di bibir saja). Mereka keluar dari Islam seperti anak panah tembus keluar dari (badan) binatang buruannya. Mereka memerangi orang Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Kalau aku menemui mereka niscaya akan kupenggal lehernya  seperti halnya kaum ‘Ad”.(HR. Muslim).
Dalam riwayat lain beliau bersabda, “ Mereka itu sejelak-jeleknya makhluk bahkan lebih jelek dari binatang. Mereka tidak termasuk dalam golonganku, dan aku tidak termasuk dalam golongan mereka (HR Shahih Muslim).
Prediksi Nabi SAW terbukti pada ahad pagi 17 Ramadhan 40 H. Pagi itu Ali bin Abi Thalib dibunuh di Kuffah, Irak oleh Abdurrahman Ibnu Muljam. Sebenarnya yang akan dibunuh ada dua orang lagi yaitu Gubernur Syam Muawiyah bin Abu Sufyan dan Gubernur Mesir Amr bin Ash. Yang akan melakukan pembunuhan tersebut adalah Abullah bin Barak dan Bakr at-Tamimi.
Mereka membunuh Ali RA karena menganggapnya kafir, dengan alasan, karena Ali RA bersedia menerima keputusan hasil perundingan tahun 37 H, antara utusan Khalifah Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dan utusan Muawiyah yang dipimpin Amr bin Ash. Perjanjian ini dilakukan untuk menghentikan perang saudara dalam peperangan Shifin.
Padahal, mereka yang melakukan pembunuhan adalah kelompok yang memaksa Ali RA untuk menerima perundingan ketika peperangan hampir dimenangkan oleh pasukan Ali. Mereka adalah yang tidak memahami Islam. Mereka rata-rata.  Adalah qa’imu al-lail, shai’mu an-nahar, hafidzu al-quran.  Mereka hafal al-Quran, setiap malam shalat tahajud, hampir tiap hari puasa sunah, jidadnya hitam, dan lututnya kapalan untuk sujud. Gambaran ini diriwayatkan secara detail dalam syarah Shahih Muslim, termasuk sosok Dzul Khuwaisirah. Imam Nawawi menjelaskan Dzul Khuwaisirah adalah sosok yang berjidad hitam, kepalanya tidak berambut, gamisnya setengah kaki dan jenggotnya panjang.
Ini adalah cikal bakal tumbuhnya kelompok ekstrem di dalam tubuh umat Islam. Dari kelompok yang membunuh Ali RA ini lahir kelompok Khawarij. Kelompok ini memeiliki prinsip orang yang melakukan dosa besar satu kali dianggap kafir. Jadi Ali RA dan sahabat lainnya yang terlibat perang saudara yang membunuh sesama muslim dianggap kafir.
Kelompok ini berkembang menjadi oposisi pemerintah sepanjang masa yang memiliki militansi luar biasa dan nekad, karena 80 orang berani melawan Bani Umayah. Akibatnya, mereka tidak pernah menang, jika mati dianggap mati syahid. Kelompok ini pecah menjadi beberapa kelompok seperti, Al-Azariqah, al-Ibadiyah, an-Najdat dan ash-shufriyah. Yang paling ekstrim, adalah al-azariqah yang mengatakan, pokoknya selain Khawarij adalah kafir.

No comments:

Post a Comment

Belajar Blog

 Hari ini saya dengan siswa kelas IX E SMP Negeri 1 Kutasari sedang belajar membuat blog.